Skip to content
ROJA PORTAL Berita, edukasi, kopi dan teknologi
Mataram, Jumat, 30 October 2026 04:26 WITA
Jejak Sufi di Cangkir Qahwah: Akar Spiritual Kopi Yaman

Dibalik Keheningan Biara Mocha

Banyak yang percaya sejarah kopi dimulai dari penemuan kambing-kambing Kaldi di Ethiopia. Namun, jika kita berbicara tentang bagaimana kopi bertransformasi menjadi minuman yang terorganisir dan ritualistik, kita harus mengarahkan pandangan ke pegunungan Yaman pada abad ke-15. Di sinilah para sufi dari tarekat Shadhili menemukan sifat kopi yang membantu mereka tetap terjaga dalam ibadah malam yang panjang, sebuah praktik yang dikenal sebagai dhikr.

Bagi komunitas sufi di Yaman, kopi bukanlah komoditas ekonomi. Ia adalah qahwah—sebuah istilah yang pada masa itu merujuk pada minuman yang menekan nafsu makan dan menjaga kesadaran spiritual. Berbeda dengan cara seduh modern yang berfokus pada profil rasa, para sufi awal ini merebus biji kopi yang dipanggang dengan kulit ceri kopinya (qishr) untuk menciptakan ramuan herbal yang pekat.

Penyebaran Melalui Jalur Peziarah

Pelabuhan Mocha menjadi saksi bisu bagaimana kopi berpindah dari ruang-ruang meditasi biara ke ruang publik. Para peziarah yang menuju Mekkah membawa serta kebiasaan minum kopi ini, memperkenalkan minuman tersebut kepada dunia Arab yang lebih luas. Seiring berjalannya waktu, kedai kopi pertama—yang saat itu disebut qahveh khaneh—muncul sebagai ruang diskusi intelektual, yang secara tak langsung mengadopsi struktur sosial dari majelis-majelis sufi.

Fakta menariknya, kebiasaan ini sempat memicu kontroversi. Karena kemampuannya dalam membangkitkan energi dan memicu stimulasi mental, otoritas agama di beberapa wilayah sempat mempertanyakan apakah kopi memiliki efek yang sama dengan alkohol. Namun, sejarah mencatat bahwa karena kopi justru membawa kejernihan pikiran daripada kekacauan, minuman ini akhirnya diterima secara universal bahkan di lingkungan keagamaan yang paling ketat sekalipun.

Warisan yang Tertinggal

Hari ini, saat kita menyesap secangkir kopi, kita sebenarnya sedang mencicipi sisa-sisa tradisi dari Yaman. Metode penyeduhan modern mungkin telah melupakan aspek teologisnya, namun ruang-ruang kopi yang kita kunjungi hari ini—sebagai tempat berkumpul dan bertukar gagasan—masih memegang teguh esensi yang sama dengan qahveh khaneh berabad-abad lalu. Kopi tidak pernah sekadar tentang kafein; ia adalah alat koneksi manusia yang telah diuji oleh waktu, dimulai dari heningnya zikir di pegunungan Yaman hingga ke hiruk-pikuk kedai kopi modern hari ini.

Mengenal akar Yaman memberikan kita perspektif baru: setiap kali kita memesan kopi, kita sedang melanjutkan tradisi panjang yang mengutamakan ketajaman pikiran dan kebersamaan komunitas. Ke depannya, mari kita lebih menghargai bukan hanya varietas bijinya, tetapi juga sejarah spiritual yang menjadikan kopi sebagai minuman paling sosial di dunia.

RUANG DISKUSI

Komentar

Jejak Sufi di Cangkir Qahwah: Akar Spiritual Kopi Yaman

Bagikan sudut pandang Anda. Tetap relevan dan hormati pembaca lain.

↑