Skip to content
ROJA PORTAL Berita, edukasi, kopi dan teknologi
Mataram, Jumat, 30 October 2026 04:25 WITA
Jejak Kopi di Biara Ethiopia: Ritual Bun dan Akar Spiritual

Jauh sebelum kopi menjadi komoditas global yang diperdagangkan di bursa saham, ia adalah bagian dari denyut nadi spiritual di dataran tinggi Ethiopia. Banyak literatur populer sering kali melompati detail ini dan langsung melompat ke era kafein Eropa. Padahal, jantung dari sejarah kopi sebenarnya berdetak di dalam upacara 'Bun' yang masih dipraktikkan secara turun-temurun oleh masyarakat di wilayah Kaffa.

Ritual Bun: Lebih dari Sekadar Menyeduh

Bagi masyarakat setempat, proses menyiapkan kopi bukan sekadar fungsi biologis untuk menghilangkan kantuk. Ritual Bun adalah manifestasi dari kesabaran dan kebersamaan. Dimulai dengan mencuci biji kopi mentah, menyangrain, lalu memanggangnya di atas tungku arang hingga aromanya memenuhi ruangan, proses ini adalah undangan bagi tetangga dan keluarga untuk duduk melingkar. Asap yang membubung dari biji kopi sangrai dianggap sebagai penghormatan bagi roh leluhur dan simbol keberkahan.

Metode ini menekankan pada penggunaan biji kopi yang baru disangrai (freshly roasted). Berbeda dengan tren dunia yang mengedepankan presisi digital, ritual Bun mengandalkan intuisi. Bun (kopi) disajikan dalam tiga putaran, yang masing-masing memiliki nama dan makna filosofis tersendiri:

  • Abol: Putaran pertama yang melambangkan kehangatan pembuka percakapan.
  • Tona: Putaran kedua yang memberikan ruang untuk refleksi mendalam.
  • Baraka: Putaran ketiga yang dianggap sebagai berkat atau penutup syukur atas pertemuan hari itu.

Koneksi Spiritual dengan Biara

Sejarah lisan di wilayah ini menceritakan peran para biarawan di biara-biara terpencil yang menggunakan kopi untuk menopang ketahanan mereka selama ibadah malam yang panjang. Kopi bukan sekadar stimulan, melainkan 'bahan bakar' meditasi. Di masa lalu, biji kopi dicampur dengan lemak hewani atau madu untuk dikonsumsi sebagai camilan energi saat menempuh perjalanan jauh melintasi medan pegunungan yang sulit.

Tradisi ini mengajarkan kita bahwa kopi, pada esensinya, adalah jembatan komunikasi. Saat kita menyesap kopi hari ini, kita sebenarnya sedang mempraktikkan warisan kuno yang menekankan pada kehadiran penuh (mindfulness). Keindahan dari tradisi Ethiopia terletak pada penolakannya terhadap kecepatan. Dalam dunia yang serba instan, ritual Bun menuntut kita untuk berhenti, menghirup aromanya, dan menghargai proses perubahan biji hijau yang keras menjadi eliksir hitam yang membumi.

Mempelajari sejarah ini membuat kita sadar bahwa setiap tegukan kopi membawa memori kolektif tentang kebersamaan. Kopi bukan hanya soal profil rasa atau nilai cupping score, melainkan tentang bagaimana sebuah minuman mampu mengikat komunitas dan menjadi saksi bisu sejarah manusia sejak berabad-abad silam di balik kabut pegunungan Ethiopia.

RUANG DISKUSI

Komentar

Jejak Kopi di Biara Ethiopia: Ritual Bun dan Akar Spiritual

Bagikan sudut pandang Anda. Tetap relevan dan hormati pembaca lain.

↑