Skip to content
ROJA PORTAL Berita, edukasi, kopi dan teknologi
Mataram, Kamis, 29 October 2026 00:22 WITA
Jejak Sufi di Cangkir Qahwa: Mengulik Akar Spiritual Kopi Yaman

Awal Mula di Lereng Pegunungan Yaman

Banyak catatan sejarah sering kali melompat langsung ke era kolonialisme Belanda atau kejayaan kedai kopi di Eropa. Namun, untuk memahami esensi kopi, kita harus menengok ke abad ke-15 di wilayah dataran tinggi Yaman. Di sinilah, jauh dari hingar-bingar komersialisasi, kopi pertama kali diolah bukan sebagai komoditas perdagangan, melainkan sebagai alat bantu spiritual oleh para pertapa Sufi.

Para penganut tasawuf di Yaman menggunakan seduhan yang mereka sebut qahwa untuk menjaga kesadaran selama sesi dhikr yang berlangsung sepanjang malam. Tanaman yang tumbuh liar di lereng gunung Arab Felix ini dipetik, disangrai, dan diseduh hingga menghasilkan cairan pekat yang memberikan efek waspada. Bagi mereka, kafein adalah pendukung kekhusyukan, bukan sekadar stimulan untuk bekerja.

Ritual Qishr dan Simbolisme Keagamaan

Berbeda dengan gaya seduh modern yang berfokus pada ekstraksi biji, tradisi awal di Yaman justru lebih menghargai kulit buah kopi (cherry). Inilah yang dikenal sebagai Qishr. Kulit kopi dikeringkan dan diseduh bersama rempah seperti jahe, kayu manis, dan kapulaga. Praktik ini masih bisa ditemukan hingga hari ini di beberapa sudut kota tua Sana'a dan merupakan representasi budaya yang sangat spesifik dan jarang diangkat dalam narasi kopi arus utama.

Budaya minum kopi di Yaman pada masa itu menciptakan ruang komunal yang unik. Kedai kopi yang tumbuh di sekitar pelabuhan Mocha bukanlah tempat untuk bergosip, melainkan pusat diskusi intelektual dan spiritual. Kopi menjadi penyambung lidah antar-ilmuwan dan pemikir Sufi yang datang dari berbagai pelosok dunia Islam melalui jalur haji dan perdagangan.

Pelajaran dari Pelabuhan Mocha

Nama 'Mocha' yang kini sering kita kaitkan dengan campuran cokelat dan kopi, sejatinya adalah nama pelabuhan legendaris di Yaman. Selama berabad-abad, pelabuhan ini memonopoli distribusi kopi dunia. Ketatnya pengawasan terhadap benih kopi yang keluar dari Yaman menunjukkan betapa berharganya komoditas ini bagi masyarakat setempat. Mereka memperlakukan kopi sebagai harta karun yang sakral.

Mengapa kita perlu mengingat sejarah ini? Karena di balik setiap cangkir yang kita nikmati hari ini, terdapat warisan dari para Sufi yang memandang kopi sebagai hadiah dari alam untuk menjaga kesehatan pikiran dan jiwa. Memahami sejarah Yaman adalah memahami bahwa kopi pada dasarnya adalah minuman yang menghubungkan manusia dengan kontemplasi. Ketika kita menyesap kopi, kita sebenarnya sedang melanjutkan tradisi yang telah berusia ratusan tahun, yang bermula dari kesunyian malam di pegunungan Yaman yang dingin, jauh sebelum kopi menjadi gaya hidup global seperti sekarang.

RUANG DISKUSI

Komentar

Jejak Sufi di Cangkir Qahwa: Mengulik Akar Spiritual Kopi Yaman

Bagikan sudut pandang Anda. Tetap relevan dan hormati pembaca lain.

↑