Jauh sebelum kopi menjadi komoditas global yang dipesan melalui aplikasi di kota-kota besar, tanaman Coffea arabica tumbuh liar di hutan-hutan dataran tinggi Kaffa, Ethiopia. Di sana, kopi tidak pernah dianggap sebagai sekadar bahan bakar pagi hari. Bagi komunitas Oromo dan masyarakat lokal di dataran tinggi, kopi adalah perantara antara dunia manusia dan spiritualitas, yang diwujudkan dalam upacara yang dikenal sebagai Bun.
Ritual Bun: Lebih dari Sekadar Seduhan
Dalam tradisi Bun, proses menyeduh kopi bukan tentang kecepatan. Ini adalah sebuah liturgi domestik yang memakan waktu berjam-jam. Biji kopi hijau dipanggang di atas wajan besi tradisional hingga aromanya memenuhi ruangan. Setelah dipanggang, biji-biji tersebut ditumbuk secara manual menggunakan lesung dan alu kayu, menciptakan irama ritmik yang menjadi latar belakang percakapan hangat.
Apa yang membuat ritual ini unik adalah penggunaan dupa yang dibakar di samping tempat memanggang. Asap kemenyan ini dipercaya untuk memanggil roh baik dan membersihkan ruang dari energi negatif. Kopi kemudian diseduh dalam wadah tanah liat yang disebut jebena. Proses menuang kopi dari jebena ke cangkir-cangkir kecil tanpa gagang (cini) dari ketinggian tertentu adalah sebuah keahlian tersendiri yang bertujuan untuk menciptakan lapisan busa yang sempurna.
Koneksi Spiritual dan Sosial
Di wilayah Kaffa dan Sidamo, kopi sering disajikan dengan sejumput garam atau mentega, alih-alih gula yang kita kenal sekarang. Bagi para tetua, kopi adalah perekat komunitas. Tidak ada keputusan penting yang diambil dalam sebuah desa tanpa melalui upacara kopi. Kehadiran setiap orang dalam lingkaran Bun adalah bentuk pengakuan sosial dan solidaritas. Jika seseorang tidak diundang atau tidak hadir, hal itu dianggap sebagai tanda perpecahan dalam masyarakat.
Secara historis, para rahib di biara-biara kuno di Ethiopia menggunakan kopi untuk tetap terjaga saat melakukan sesi doa panjang di tengah malam. Mereka menemukan bahwa buah beri merah yang dimakan kambing-kambing lokal memberikan energi yang tak biasa. Namun, alih-alih mengonsumsinya secara instan, mereka mengolahnya menjadi semacam teh dari daun dan kulit ceri, sebelum akhirnya mengadopsi biji panggang yang kita kenal sekarang.
Menghargai Akar Tradisi
Mempelajari ritual Bun mengajarkan kita bahwa kopi adalah sebuah artefak sejarah. Di dunia yang terobsesi dengan efisiensi dan profil rasa yang kompleks, kita sering lupa bahwa kopi pernah menjadi media untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Ritual di Ethiopia ini memaksa setiap individu yang terlibat untuk hadir sepenuhnya—menghirup aroma panggang, merasakan panas cangkir di tangan, dan mendengarkan cerita yang mengalir seiring dengan tuangan kopi ketiga, yang sering disebut sebagai Baraka atau berkat.
Ketika kita menyeruput kopi hari ini, mungkin ada baiknya untuk tidak hanya menilai notasinya, tetapi juga menghargai keberlangsungan tradisi yang telah bertahan selama ratusan tahun. Kopi adalah jembatan budaya yang menghubungkan masa lalu dengan keseharian kita saat ini, sebuah pengingat bahwa kehangatan secangkir kopi selalu berpangkal pada keramahan dan kebersamaan.