Skip to content
ROJA PORTAL Berita, edukasi, kopi dan teknologi
Mataram, Kamis, 29 October 2026 23:51 WITA
Jejak Kopi di Biara Ethiopia: Ritual Bun dan Akar Spiritual

Akar yang Tersembunyi di Balik Legenda Kaldi

Banyak literatur populer selalu merujuk pada legenda Kaldi dan kambingnya sebagai titik tolak sejarah kopi. Namun, jika kita menelusuri akar yang lebih dalam di dataran tinggi Kaffa, Ethiopia, kopi sebenarnya memiliki narasi yang jauh lebih mendalam di dalam dinding-dinding biara tua. Di sana, kopi tidak ditemukan sebagai komoditas perdagangan, melainkan sebagai alat bantu ritual untuk menjaga kesadaran selama sesi doa yang berlangsung sepanjang malam.

Ritual Bun: Lebih dari Sekadar Menyeduh

Di Ethiopia, praktik minum kopi yang dikenal sebagai 'Bun' bukanlah aktivitas instan. Ini adalah sebuah pertunjukan ketabahan dan kesabaran. Berbeda dengan tren kopi gelombang ketiga yang mengutamakan presisi alat ukur, ritual Bun dimulai dari proses penyangraian biji kopi hijau di atas wajan tanah liat langsung di depan para tamu. Asap yang membubung membawa aroma yang intens, yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai cara untuk berkomunikasi dengan arwah leluhur atau sekadar membersihkan energi negatif di dalam ruangan.

Tiga Tahap Kesadaran

Dalam satu sesi ritual Bun, kopi disajikan dalam tiga putaran, yang masing-masing memiliki nama dan makna tersendiri:

  • Abol: Putaran pertama yang paling kuat, melambangkan pembukaan dialog dan kesadaran penuh.
  • Tona: Putaran kedua, yang diseduh kembali dari ampas yang sama, melambangkan kelanjutan diskusi yang lebih santai.
  • Baraka: Putaran ketiga, tahap akhir yang dianggap sebagai pembawa berkah bagi seluruh partisipan yang hadir.

Praktik ini menunjukkan bahwa masyarakat Ethiopia telah lama memahami konsep ekstraksi bertahap jauh sebelum metode modern seperti re-brewing ditemukan oleh kedai kopi modern di kota-kota besar dunia. Mereka tidak mencari profil rasa 'fruity' atau 'floral' seperti yang diburu oleh para pencinta kopi spesialis saat ini; mereka mencari 'Baraka' atau keberkahan dalam setiap tetesnya.

Relevansi Budaya di Era Modern

Di saat kopi dunia telah terkomodifikasi secara masif, menilik kembali tradisi di Ethiopia memberikan perspektif baru bagi kita. Budaya kopi di Ethiopia adalah tentang durasi—waktu yang dihabiskan untuk menunggu kopi disangrai, waktu untuk menghirup asapnya, hingga waktu untuk duduk bersama tanpa gangguan gawai. Inilah esensi kopi yang sebenarnya, yang sering kali tergerus oleh budaya 'kopi untuk dibawa pulang'. Belajar dari ritual Bun, kita diingatkan bahwa kopi adalah medium pemersatu, bukan sekadar bahan bakar untuk produktivitas. Ketika kita menyeruput kopi hari ini, mungkin ada baiknya kita meluangkan waktu sejenak untuk menghargai proses yang ada di baliknya, sebagaimana para tetua di Ethiopia menjaga tradisi mereka selama berabad-abad, menjauh dari ingar-bingar tren global yang sering kali hanya memandang kopi sebagai angka statistik di pasar komoditas dunia.

RUANG DISKUSI

Komentar

Jejak Kopi di Biara Ethiopia: Ritual Bun dan Akar Spiritual

Bagikan sudut pandang Anda. Tetap relevan dan hormati pembaca lain.

↑