Skip to content
ROJA PORTAL Berita, edukasi, kopi dan teknologi
Mataram, Rabu, 28 October 2026 21:31 WITA
Jejak Kopi di Biara Ethiopia: Ritual Bun dan Spiritualitas kuno

Menyusuri Akar Spiritual di Dataran Tinggi Kaffa

Saat kita berbicara tentang sejarah kopi, narasi sering kali berhenti pada legenda Kaldi dan kambing-kambingnya. Namun, melampaui mitos tersebut, terdapat praktik yang lebih dalam dan hidup di dataran tinggi Ethiopia: Upacara Kopi Bun. Ini bukan sekadar menyeduh minuman, melainkan sebuah pertunjukan seni yang berakar pada kehidupan biara dan komunitas agraris yang bertahan selama berabad-abad.

Ritual Bun: Lebih dari Sekadar Kafein

Dalam budaya Ethiopia, terutama di wilayah Kaffa dan Sidamo, kopi dianggap sebagai ikatan sosial yang sakral. Upacara Bun dimulai dengan pencucian biji kopi hijau yang masih mentah, diikuti dengan penyangraian di atas wajan tanah liat datar yang disebut 'mitad'. Asap yang dihasilkan dari biji yang sedang disangrai ini sering kali dianggap sebagai pembersih ruangan, memberikan aroma yang menenangkan sebelum proses penumbukan dimulai.

Metode penyeduhan menggunakan 'jebena', sebuah teko tanah liat berleher panjang, adalah inti dari ritual ini. Air dituang ke dalam jebena yang sudah berisi bubuk kopi halus, lalu dididihkan secara perlahan. Keunikan dari cara ini adalah penyaringan yang dilakukan berulang kali melalui celah-celah di leher jebena yang sering kali disumbat dengan serat tanaman atau rambut kuda untuk menahan ampas agar tidak keluar saat dituang.

Pesan di Balik Tiga Cangkir

Ada filosofi mendalam dalam penyajian kopi Bun, di mana kopi biasanya disajikan dalam tiga putaran, yang masing-masing memiliki nama dan makna berbeda:

  • Abol: Cangkir pertama yang melambangkan pertemuan awal atau pembuka percakapan.
  • Tona: Cangkir kedua yang dipercaya sebagai penguat pikiran, sering kali dianggap sebagai momen introspeksi.
  • Baraka: Cangkir ketiga dan terakhir, yang dianggap sebagai pemberi berkat bagi mereka yang meminumnya.

Tiga cangkir ini bukan hanya tentang asupan kafein, melainkan tentang menghormati tamu dan membangun konsensus dalam komunitas. Di desa-desa terpencil, keputusan penting sering kali diambil di tengah-tengah ritual kopi ini. Ketiga cangkir tersebut menciptakan ruang aman bagi siapa pun yang duduk di atas tikar jerami untuk berbagi keluh kesah atau merencanakan masa depan desa.

Keberlanjutan dalam Tradisi

Di dunia modern yang serba cepat, ritual Bun mengingatkan kita bahwa kopi dulunya adalah minuman yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan kehadiran penuh. Tidak ada 'to-go cup' dalam tradisi ini. Semua orang yang terlibat diwajibkan untuk hadir secara fisik dan mental. Praktik ini menjadi antitesis bagi budaya konsumsi kopi instan yang kita temui hari ini. Dengan memahami akar Ethiopia ini, kita diajak untuk melihat kembali kopi sebagai medium penyambung antar manusia, bukan sekadar komoditas yang diperdagangkan di bursa global.

RUANG DISKUSI

Komentar

Jejak Kopi di Biara Ethiopia: Ritual Bun dan Spiritualitas kuno

Bagikan sudut pandang Anda. Tetap relevan dan hormati pembaca lain.

↑