Skip to content
ROJA PORTAL Berita, edukasi, kopi dan teknologi
Mataram, Kamis, 29 October 2026 10:57 WITA
Jejak Kafeqoh: Ritual Kopi Sufi di Sudut Tua Yaman

Jauh sebelum kopi menjadi komoditas global yang dipesan lewat aplikasi, ia adalah bahan bakar spiritual di dataran tinggi Yaman. Sejarah kopi tidak dimulai di kedai kopi modern, melainkan di dalam lingkungan zawiyah atau tempat ibadah kaum Sufi pada pertengahan abad ke-15. Di kota Mocha dan sekitarnya, para praktisi Sufi menemukan bahwa rebusan biji dari tanaman Coffea arabica mampu menjaga kesadaran mereka tetap terjaga saat menjalankan ritual dzikir sepanjang malam.

Kafeqoh: Sang Penjaga Vigilansi

Istilah kafeqoh muncul sebagai penyebutan awal untuk seduhan ini. Bagi masyarakat Yaman saat itu, kopi bukan sekadar minuman penghilang kantuk; ia dianggap sebagai 'minuman yang melampaui batas'. Penggunaannya diintegrasikan ke dalam rangkaian ibadah yang sunyi. Proses penyeduhannya pun dilakukan dengan penuh ketenangan, mirip dengan persiapan ritual keagamaan. Biji kopi disangrai hingga gelap, ditumbuk kasar, dan kemudian direbus dengan rempah-rempah seperti jahe atau kapulaga.

Tradisi Qishr: Jejak yang Terlupakan

Sering kali, sejarah kopi terjebak pada narasi biji yang digiling halus. Padahal, tradisi asli Yaman yang justru lebih tua adalah penggunaan kulit buah kopi atau yang dikenal dengan nama qishr. Alih-alih membuang bagian luar buah tersebut, para petani dan biarawan Sufi mengeringkannya lalu menyeduhnya menjadi teh herbal yang manis dan beraroma buah. Tradisi qishr ini merupakan representasi paling murni dari budaya kopi Yaman yang otentik, di mana setiap bagian dari tanaman kopi memiliki nilai dan fungsi.

Dari Zawiyah ke Alun-Alun Kota

Transisi kopi dari lingkungan privat kaum Sufi menuju ruang publik terjadi ketika efektivitas minuman ini mulai menarik perhatian pedagang yang melintasi jalur sutra. Kopi yang tadinya dianggap sebagai ramuan mistis untuk meditasi, mulai dijual di pasar-pasar terbuka di Aden dan Mocha. Kedai kopi pertama di dunia mulai bermunculan bukan sebagai tempat bisnis semata, melainkan sebagai ruang diskusi yang egaliter. Di sinilah tradisi minum kopi berubah dari ritual kontemplatif yang sunyi menjadi pusat pertukaran ide yang dinamis.

Relevansi Hari Ini

Melihat kembali sejarah ini, kita diajak untuk melihat kopi dengan perspektif yang lebih dalam. Kopi Yaman bukan sekadar tentang profil rasa 'winey' atau 'fruity' yang sering kita cari di kafe kekinian. Ia adalah tentang ketekunan, ruang untuk berpikir, dan koneksi spiritual. Saat kita menikmati secangkir kopi hari ini, ada baiknya kita menyadari bahwa di balik setiap tetesnya, tersimpan warisan sejarah tentang bagaimana manusia mencoba mendekati Tuhan dan kebenaran melalui satu cangkir minuman yang hangat.

RUANG DISKUSI

Komentar

Jejak Kafeqoh: Ritual Kopi Sufi di Sudut Tua Yaman

Bagikan sudut pandang Anda. Tetap relevan dan hormati pembaca lain.

↑