Skip to content
ROJA PORTAL Berita, edukasi, kopi dan teknologi
Mataram, Rabu, 28 October 2026 22:29 WITA
Benarkah Cold Brew Lebih Aman untuk Lambung? Ini Penjelasannya

Bagi sebagian besar masyarakat modern, memulai hari tanpa secangkir kopi rasanya seperti ada yang kurang. Minuman beraroma khas ini telah menjadi ritual harian sekaligus penopang produktivitas. Namun, bagi orang-orang dengan sistem pencernaan sensitif atau penderita asam lambung (GERD), menikmati kopi sering kali disertai rasa waswas akan sensasi perih di perut.

Di tengah kekhawatiran tersebut, popularitas cold brew kian melejit. Minuman kopi dingin ini sering dipromosikan sebagai alternatif yang jauh lebih ramah di lambung dibandingkan seduhan kopi panas biasa. Namun, benarkah klaim tersebut secara ilmiah?

Mengenal Metode Cold Brew

Sebelum menilik dampaknya pada tubuh, penting untuk memahami bagaimana cold brew dibuat. Berbeda dengan es kopi biasa yang diseduh menggunakan air panas lalu diberi es batu, cold brew diekstraksi murni menggunakan air bersuhu ruang atau air dingin dalam kurun waktu 12 hingga 24 jam.

Proses perendaman lambat ini menghasilkan perubahan kimiawi yang signifikan pada hasil seduhan. Karena tidak bersentuhan dengan suhu tinggi, senyawa-senyawa dalam bubuk kopi terekstraksi secara bertahap dan selektif.

Tingkat Keasaman yang Lebih Rendah

Suhu air memegang peranan krusial dalam melepaskan minyak dan asam alami dari biji kopi. Ketika diseduh dengan air panas, senyawa asam volatil terekstraksi dengan cepat, memberikan rasa asam cerah (acidity) yang tajam pada kopi panas biasa.

Sebaliknya, beberapa penelitian laboratorium menunjukkan bahwa metode seduh dingin menghasilkan tingkat keasaman (pH) yang cenderung lebih tinggi atau kurang asam hingga 60-70 persen dibandingkan kopi panas. Hal inilah yang membuat rasa cold brew terasa lebih halus, manis alami, dan tidak menggigit di lidah maupun lambung.

Apakah Sepenuhnya Bebas Risiko?

Meskipun tingkat keasamannya lebih rendah, para ahli mengingatkan bahwa keasaman cairan bukanlah satu-satunya pemicu masalah lambung. Faktor utama lainnya adalah kafein.

Kafein dapat merangsang produksi asam lambung berlebih sekaligus mengendurkan otot sfingter esofagus bagian bawah, yang memudahkan asam lambung naik ke kerongkongan. Karena proses ekstraksi yang panjang, konsentrasi kafein pada cold brew bisa cukup pekat jika tidak diencerkan dengan benar. Oleh karena itu, penderita maag berat tetap perlu berhati-hati.

Tips Menikmati Kopi bagi Pemilik Lambung Sensitif

Jika Anda ingin tetap menikmati kopi dengan nyaman tanpa mengorbankan kesehatan pencernaan, beberapa langkah praktis berikut dapat diterapkan:

  • Jangan Minum Saat Perut Kosong: Pastikan Anda sudah mengonsumsi makanan ringan atau sarapan sebelum meminum kopi.
  • Pilih Biji Kopi Dark Roast: Kopi dengan tingkat pemanggangan gelap cenderung memiliki senyawa N-methylpyridinium (NMP) yang lebih tinggi, yang terbukti membantu menekan sekresi asam lambung.
  • Encerkan Konsentrat Cold Brew: Selalu tambahkan air, susu nabati, atau es batu secukupnya agar kadar kafein per sajian tidak terlalu pekat.
  • Batasi Porsi: Cukupi satu cangkir per hari dan dengarkan respon tubuh Anda sendiri.

Secara garis besar, cold brew memang menyajikan profil rasa yang lebih bersahabat bagi pencernaan banyak orang. Namun, moderasi dan pemahaman terhadap toleransi tubuh masing-masing tetap menjadi kunci utama dalam menikmati setiap tegukan kopi favorit Anda.

RUANG DISKUSI

Komentar

Benarkah Cold Brew Lebih Aman untuk Lambung? Ini Penjelasannya

Bagikan sudut pandang Anda. Tetap relevan dan hormati pembaca lain.

↑